Hanya Burung berkicau

Jumat, 17 Februari 2012

TUHAN MARAH ?



" Ketika bencana alam besar terjadi, seringkali manusia menghubung-hubungkannya dengan Kemarahan Tuhan atas segala dosa ....dan seterusnya "



Kemarahan adalah kondisi Psikologis, suatu reaksi emosional yang biasa dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari, maka sebenarnya ragam emosi yang kasar itu dapat disingkirkan atau sekurang-kurangnya dapat dikendalikan sehingga tidak menimbulkan berbagai bahaya yang fatal, yang akan disesali sepanjang hidupnya.



Persoalannya menjadi menarik ketika Tuhan yang menempati ruang begitu besar bagi pikiran manusia memiliki emosi (marah) yang hampir sama dengan manusia. Tuhan bisa menjadi Maha kasih pun bisa Marah sekaligus.

Pikiran telah membawa kita mengembara jauh memasuki dunia tanpa ujung, Pikiran (Mind) adalah satu ruang di dalam mana sub-sub pikiran "kehendak" (Thoughts) berada. Jadi bila kita katakan pikiran telah menjadi tenang, itu artinya pikiran telah memasuki satu keadaan "Berhenti" (mengosongkan Pikiran). Pikiran adalah objek sekaligus pelaku.
Hakikat diri adalah kesadaran yang menuju realisasi murni, memposisikan jiwa kepada hakikatnya “Satyam Jnanam Anantam Brahman”, Pengetahuan (Kesadaran) Kesujatian yang tak terbatas.
 “Ada dua ekor burung yang selalu berkeadaan menjadi satu , yang dijuluki dengan satu nama yang sama, yang tinggal di sebuah pohon. Salah satu dari kedua burung itu menghayati kenikmatan dalam memakan buah dari pohon itu, sedang yang satunya lagi mengawasinya sebagai Sang Saksi” (Manduka Upanisad III.1.)


Sebagai Saksi? Bathin yang menyaksikan, menyimak, mengawasi, tanpa terjebak dalam penilaian benar salah. Hanya batin (Pikiran) yang bisa benar-benar "diam"-lah yang  bisa menjadi saksi. Dalam  "diam" tidak ada penilaian, penghakiman, apalagi penolakan. Ia hanya  menyaksikan, ia hanya memfungsikan dirinya sebagai  saksi (Meditatif).

free counters